SISI-SISI PARADOKS RAMADHAN
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd

Apa yang tidak ada dalam bulan Ramdhan?. Semua umat Islam merasakannya, bahwa Ramadhan memang bulan special. Ia ada di mana-mana; jalan-jalan, perkantoran, toko, bahkan sampai di pasar-pasar tradisional. Nuansa Ramadhan seakan tidak mensisakan ruang kosong sedikitpun bagi tandingan budaya selainnya, hiburan malam diliburkan, salon pijat dan ‘remang-remang’ disterilkan, penggerebekan menjadi keharusan. Acara-acarapun marak dibikin sebagai simbolisasi keterlibatan langsung secara emosional pada bulan yang penuh berkah ini. Ramadhan akhirnya menjadi komoditas yang sangat laku diperjual-belikan. Tidak hanya oleh kalangan umat Islam, tradisi Ramadhan di Indonesia adalah milik semua orang –entah ia Islam ataupun tidak. TV mengeruk berkah dengan film, sinetron dan sekian banyak acara yang khusus hanya tayang ketika bulan ini datang, para musisi ramai ramai menjajakan verbalitas religius. Pun para politisi menawarkan paket ‘kesalehan’.
Dengan fenomena ini, tidak salah kiranya menyebut Ramadhan sebagai bulan yang memiliki sisi ganda (ambiguous) – paradoksal. Ia adalah ibadah personal dan public sekaligus. Sisi personal Ramadhan ada pada nilai intinya yakni puasa yang hanya menjadi urusan pelakunya, sebagaimana disebut sendiri oleh Allah melalui lidah Nabi-Nya “Puasa adalah untukku semata dan Akulah yang menanggung pahalanya”. Sementara sisi public Ramadhan adalah praktek-praktek ibadah sekunder yang mengiringinya. Seperti pelaksanaan Salat Terawih, dan amalan sunnah lainnya.
Melihat fenomena Ramadhan kita, yang menjadi persoalan adalah hilangnya subtansi personal dari puasa itu sendiri. Budaya puasa kita ternyata justru lebih ditekankan pada praktek-praktek luarannya saja. Kita sibuk memperdebatkan menu berbuka tetapi melupakan kondisi kelaparan di sekitar kita. Kita sibuk mengatur acara berbuka puasa bersama teman-teman sekantor kita, tetapi lupa menggalang kepedulian pada sesama. Sangat ironis, Ramadhan dengan intinya puasa sebagai usaha untuk melatih diri mengekang nafsu, menahan semua keinginan duniawi, dan mengasah kepedulian pada sesama, akhirnya kehilangan subtansinya. Sangat wajar kemudian nilai konsumsi di masyarakat naik, harga kebutuhan-kebutuhanpun pokok melonjak tajam.
Maka tak mengherankan manakala masih terjadi jurang dan paradoks beragama. Kesemarakan Ramadhan pun masih berhenti pada ranah penuh luaran. Fenomena terakhir bahkan menunjukkan bentuk komoditisasi. Dakwah Ramadhan menjadi bercorak entertainment yang penuh warna dan pesona. Politisi, Artis, Musisi, bahkan pelawak menjadi idola dadakan di ruang publik religi Ramadhan. Ada bagusnya tentu saja, tetapi selalu ada ruang kosong yakni makna-makna substantif. Karena Ramadhan kehilangan substansi, maka jangan kaget kemudian jika muncul kejutan demi kejutan, da’i yang sebenarnya kehilangan jamaah dan jadi cemooh publik.
Selebrasi Agama
Harus diakui, tidak ada ibadah yang lengkap bagi kaum Muslimin sekomplet di bulan Ramadhan. Ibadah puasa (shaum) sebagai inti. Lalu qiyam al-lail (tarawih), i’tikaf, dan amalan-amalan ibadah lainnya yang memiliki nilai istimewa. Bahkan ada lailat al-qadar yang sangat istimewa. Semuanya berlangsung intensif selama sebulan penuh. Tidak cukup di situ. Masih pula ditambah dengan zakat al-fitrah, kemudian dilanjutkan shalat Idul Fitri di hari kemenangan 1 Syawal usai Ramadhan.
Maka, kurang apa lagi tempaan ibadah bagi setiap Muslim? Lahir dan batin, intelektual dan spiritual, akidah dan syariah, akhlak dan muamalah, bahkan aspek individual dan sosial disenyawakan menjadi satu kesatuan dalam pembinaan diri umat Nabi akhir zaman ini. Maka tak salah jika kemudian Ramadhan dirayakan sebagai momentum selebrasi bagi umat Islam Indonesia. Bagaimana tidak, pada setiap bulan Ramadhan, kaum Muslim di negeri ini banyak disuguhi oleh begitu banyak sajian keagamaan yang begitu manis dan marak, baik di TV, radio sampai EO acara keagamaan dadakan. Acara yang penuh pesona keagamaan mengharu-biru, pesona yang mampu menghipnotis umat Islam untuk masuk dalam arena keagamaan populer. Menampilkan agama ringan dan lucu, namun tak menyentuh dasar dan makna yang aktual. Tak pelak, Ramadhan menjadi daya pemikat publik, sekaligus menjadi magnet para pemilik modal di dunia pasar.
Tak dapat disangkal kemudian, bulan Ramadhan adalah satu diantara sekian momentum selebrasi bagi pemeluk agama Islam. Kegiatan ibadah marak di mana-mana. Semaraknya tampil begitu sarat antusiasme. Dzikir berjamaah, mujahadah akbar, pengorganisasian i’tikaf 10 hari terakhir dan agenda acara ibadah sejenis, semuanya penuh dengan warna monumental dan penuh kesemarakan. Umat dibikin bergairah dan penuh kesyahduan. Kegairahan yang begitu menggebu menandai bulan Ramadhan sekaligus sebagai modal penting bagi umat Islam untuk meniti diri, menggembleng dan menuju kemenangan (fitri). Dengan gairah, antusiasme dan kesemarakan Ramadhan inilah maka bangunan spritual elementer yang menjadi tumpuan kemenangan setiap muslim akan segera diperoleh. Namun demikian, selebrasi tanpa hati akan menjadikan nirmakna pada apapun yang telah dilakukan seorang muslim di bulan ini.
Praktek ibadah di bulan Ramadhan hendaknya tidak berhenti pada simbolisme dan verbalisme belaka. Ibadah serba simbol berarti menjauhkan diri untuk memasuki dunia makna sebenarnya. Verbalisme dan simbolisme menurut Haedar Nashir akan sekadar berhenti di tataran rukun, berhenti di simpul-simpul harfiah bahkan dalam ranah yang paling klasik berarti skriptural. Verbalisme dan simbolisme akan melarikan Ibadah dibulan Ramadhan pada pengguguran kewajiban belaka, sekedar terpenuhi rukun dan syarat syah puasa saja. Puasa menjadi nirmakna dan tujuannya pun jauh digapai.
Puasa yang dialamatkan untuk membentuk pribadi takwa seakan dilupakan. Bukankah al-Quran, tulis Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an, (1980), ”adalah sebuah dokumen yang secara langsung dialamatkan kepada manusia; sebagai petunjuk bagi manusia”. Sebagai petunjuk, al-Quran menjelaskan secara tajam garis demarkasi antara beragama yang benar dan yang salah. Dan bertakwa adalah perolehan yang benar dari melaksanakan puasa.
Karena itu, yang diperlukan dalam memaknai semarak ibadah di bulan Ramadhan adalah memberi makna-makna substantif dan fungsi-fungsi aktual dari pemahaman dan simbolisme yang ada. Seorang yang berpuasa dan beragama secara benar dituntut melakukan gerak pencerahan ke hal-hal ajaran yang lebih substansial dan intelektual tanpa kehilangan rukun yang matsurah (sesuai Sunnah Rasul) yang autentik sebagaimana pesan utama al-Quran untuk membawa Ramadhan pada level muslim yang muttaqin.