MERDEKA DIRI DARI BELENGGU SYAHWAT
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Ibadah shaum Ramadhan terasa membahagiakan, manakala dipandang sebagai sarana untuk mendapatkan ekistensi diri, bahwa manusia sebagai hamba Allah adalah merdeka dari perbudakan nafsu syahwat. Nafsu syahwat adalah sarana penegasan eksistensi diri, maka orang yang berhasil menundukkan nafsunya, berhasil memimpin dirinya, berhasil menang dalam membuktikan bahwa dorongan kepatuhan pada perintah Allah yang menjamin kebahagiaan dunia kahirat itu lebih kuat dan diutamakan dari menuruti nafsu yang merusak
Hakikat ibadah shaum sendiri adalah memerdekakan diri dari kuatnya belenggu nafsu syahwat. Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain. Manusia diberikan karunia untuk dapat mengendalikan nafsu sekaligus mendayagunakan kekuatannya untuk merah prestasi dunia akhirat. Memerdekakan diri dari belenggu syahwat merupakan bagian terpenting dari penyucian diri. Dengan memiliki kemampuan memerdekakan diri dari belenggu syahwatnya maka orang dapat pula memerdekakan dan mengendalikan orang lain di dalam realitas kehidupan keseharian. Banyak orang berpikir, lebih sulit melawan diri sendiri ketimbang berhadapan dengan sekelompok orang dalam jumlah yang banyak dalam sebuah medan perkelahian.
Saat ini menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2011 spanduk Ramadhan berdampingan dengan spanduk merayakan kemerdekaan. Makna yang terkandung adalah mengingatkan kita semua Rakyat Indonesiah agar makna kemerdekaan dalam konteks proklamasi tidak hilang dan tidak luntur dengan makna kemerdekaan dalam konteks Ramadhan. Sebab bulan Ramadhan pada hakekatnya adalah momentum pembebasan setiap jiwa manusia dari sifat-sifat syetan maupun hewani. Makna inilah yang belum benar-benar harus diresapi dan dijalani oleh masyarakat Indonesia.
Peringatan HUT RI yang ke-66 di tahun 2011 ini sungguh merupakan anugerah Allah SWT yang teramat istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1432 H. Bulan yang penuh dengan kemesraan dan kehangatan untuk senantiasa berdekatan dengan Allah. Momentum untuk berupaya dan berusaha dalam memerdekakan diri dari belenggu nafsu pun rasanya sangat tepat untuk diangkat dalam sebuah wacana. Dengan kata lain, membumikan nilai-nilai ibadah bulan Ramadhan dalam pola hidup bermasyarakat merupakan harga mati yang sulit untuk ditawar lagi.
Merdeka dari belenggu nafsu akan mengantarkan manusia menjadi generasi terbaik dalam panggung peradaban dan sekaligus mengidentifikasikan bahwa manusia berbeda dengan binatang. Sehingga manusia yang menjalani hidupnya masih mengikuti hawa nafsu akan dan bisa lebih kejam dari binatang. Mampu mengendalikan nafsu merupakan cerminan baiknya aqidah yang diyakini dan ibadah yang diamalkan seseorang. Sebaliknya, apabila seseorang masih mengikuti hawa nafsu dalam segala tindak tanduknya berarti ada indikasi buruk dari aqidah dan ibadahnya. Padahal mengendalikan diri dari hawa nafsu juga merupakan buah dari ibadah dalam hal ini ibadah shiyam.
Kemerdekaan merupakan karunia yang tiada duanya dan hanya dianugerahkan kepada sebaik-baik penciptaan, yakni manusia. “Merdeka” berarti sebuah kata yang menyatakan adanya kepemilikan seseorang akan kebebasan untuk memilih pilihan-pilihan dalam hidup ini. Hakikat dari kemerdekaan adalah kata lain dari ‘Kebebasan Memilih’. Hidup memang penuh dengan pilihan dan kualitas hidup seseorang merupakan wujud dari pilihan-pilihannya di masa lalu. Setiap manusia diilhamkan untuk memilih jalan kefasikan atau cenderung memilih jalan ketakwaan (QS Asy-Syams : 8). Dalam ayat selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams : 8-10).
Ada dua kemerdekaan yang harus kita siapkan dan kita capai dalam mengisi Bulan Ramadhan, yaitu belajar bagaimana menjadi manusia yang merdeka secara lahir bathin. Merdeka dari sisi lahir, yakni merdeka secara fisik dan jasmani. Sedangkan dari sisi bathin seperti mental, emosional, serta ruhani. Ada kemerdekaan yang lebih utama untuk dicapai seorang manusia, yaitu kemerdekaan secara batin. Tanpa kemerdekaan dari batin walau secara fisik dia merdeka, dia tidak memiliki kematangan emosi untuk memilih rangkaian pilihan di kehidupan ini.
Kualitas kemerdekaan batin seorang manusia dilihat pada pikiran dan ruhaninya, apakah telah terbebas dari belenggu hawa nafsu atau tidak?. Bukan berarti kita lebih memilih terpenjara fisiknya daripada terpenjara mental, emosi, atau ruhaninya melainkan jangan sampai kita menjadi orang yang merdeka fisiknya saja, sementara hidupnya terpenjara hawa nafsu dan jauh dari hidayah Allah SWT. Dan hal terpenting dan harus menjadi prioritas dalam mengisi bulan Ramadhan adalah memerdekakan pikiran kita dari kebodohan dengan menuntut ilmu, memerdekakan emosi dari kebencian, dendam, rasa marah, dan ketakutan. Serta memerdekakan ruhani dari belenggu hawa nafsu yang membutakan.