MEMELIHARA SPIRIT RAMADHAN
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Bulan Ramadhan hampir meninggalkan kita dan berbahagialah orang-orang yang telah berbuat kebaikan dan menutupnya dengan sempurna. Adapun orang-orang yang telah membuang percuma waktunya untuk sesuatu yang sia-sia, berusahalah untuk menutupnya dengan kebaikan, karena yang dinilai dari amal adalah penutupnya. Hati orang-orang yang bertakwa selalu merasakan kerinduan kepada bulan Ramadhan ini dan merasakan kepedihan yang sangat apabila harus berpisah darinya. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak menangis ketika berpisah dengannya?
Bagi mereka yang khusyuk dalam shaum dan qiyamul lail-nya tentu merasakan sedih, mengingat Bulan Ramadhan yang telah mencapai penghujungnya. Di atas sajadah masjid tempat itikaf, mereka menangis, mengenang detik-detik yang seakan berlalu demikian cepat, dalam bulan suci nan syahdu yang datangnya hanya setahun sekali ini. Makin berat dada mereka, tatkala tersadar, bahwa tahun depan belum tentu masih ada umur dan kesempatan, sehingga mereka bisa mengulang lagi kebersamaan ibadah, kemesraan berkhalwat dengan Allah, sebagaimana bulan Ramadhan tahun ini.
Hari Raya Idul Fithri boleh jadi merupakan hari kemenangan bagi setiap insan yang beriman yang telah melakukan ibadah shaum selama sebulan penuh. Kemenangan atas terbelenggunya nafsu dari godaan syaithon yang terkutuk. Hari di mana setiap manusia kembali fitroh. Hari di mana manusia bisa saling bermaaf-maafan antara satu dengan yang lainnya. Takbir, tahlil, dan tahmid telah menggemparkan seluruh pelosok negeri ini, walaupun sebagian besar hanya melalui kaset-kaset dan CD.
Tiga puluh hari bukanlah waktu yang lama untuk belajar sabar dan tabah atas segala apa yang terjadi. Belajar disiplin waktu dengan melaksanakan ibadah wajib dan sunnah dari pagi hari hingga pagi lagi. Mengekang hawa nafsu yang kurang baik, seperti kurupsi, mengumbar aurot dan belajar memahami bagaimana nasib para miskin papa yang sehari-hari sudah melakukan puasa karena tidak mampu membeli makanan serta janda-janda tua yang tidak memiliki sandaran hidup lagi. Sudah seharusnya sift-sifat ini bisa terus dipelihara hingga Ramadhan berikutnya.
Namun apalah arti semua ini jika seharian kita berpuasa lantas malamnya kita balas dendam dengan makan-makanan yang berlebihan. Gemblengan selama tiga puluh hari tidak ada artinya sama sekali jika setelah Ramadhan kurupsi jalan lagi, pengumbaran aurat di media maupun di tempat umum masih menjadi trend, kepedulian terhadap orang-orang yang belum beruntung dan berada di bawah kemiskinan tidak ada dan ibadahnya kembali bolong-bolong. Apa yang dilakukan selama sebulan akan sirna dan hilang ditelan bumi jika pasca lebaran kita kembali ke dunia semula.
Kalau demikian halnya maka Ramadhan hanya masih sebagai bulan penunda hasrat belaka. Baik itu hasrat politik, korupsi dan lain-lainnya. Ramadhan belum menjadi spirit pembelajaran manusia untuk mengubah perilaku dan moral manusia. Puasa masih hanya sekedar untuk mengugurkan kewajiban, sementara substansinya belum tersentuh. Semoga saja kita tergolong orang-orang yang bisa memelihara spirit Bulan Ramadhan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ramadhan menjadi wadah bagi umat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di sinilah umat ditempa bagaimana mengendalikan perilaku dan hawa nafsu untuk mencapai ketakwaan. Ujian itu tidak sebatas menahan lapar dan haus. Seluruh pancaindra manusia pun diwajibkan beribadah shaum. Dan, terutama, hati manusia. Di hati manusia itulah semua pengendalian diri bermuara, baik dalam konteks individual maupun sosial. Karena itu, Ramadhan bermakna kesabaran.
Dalam konteks ibadah shaum, kesabaran itu bisa berwujud kedisiplinan dan kepatuhan. Bukan hanya menyangkut kaidah-kaidah ajaran agama, melainkan juga kaidah-kaidah sosial. Dengan demikian, umat wajib menjalankan kaidah ajaran agama sekaligus tidak mengabaikan kaidah-kaidah hukum yang berlaku. Itu sebabnya, kebiasaan sekelompok massa melakukan sweeping ke sejumlah tempat hiburan tidak pada tempatnya dilakukan. Domain itu ada pada aparat negara. Ramadhan bermakna pula bahwa ibadah shaum adalah untuk semua. Puasa tidak memandang status sosial. Baik rakyat jelata maupun pejabat negara wajib hukumnya berpuasa.
Dalam konteks kebangsaan, ibadah shaum bagi pejabat negara menjadi sebuah keutamaan. Sebab, jarak antara pejabat negara dan warga biasa semakin menganga. Pejabat negara kian kaya, sedangkan warga kebanyakan terus dililit oleh kemiskinan. Sudah bukan cerita baru, banyak pejabat negara di semua tingkatan menjadi kaya karena tanpa malu mengeruk uang negara. Uang yang semestinya untuk menyejahterakan rakyat diambil guna memperkaya diri.
Yang memprihatinkan ada pejabat negara yang dengan tega menyandera anggaran. Karena itu, pembangunan tidak bisa dilakukan. Buntut-buntutnya, rakyat kecil juga yang harus merasakan akibatnya. Pada bulan Ramadhan, pemerintah juga mesti mampu mengendalikan kenaikan harga berbagai keperluan rakyat, dari kebutuhan pokok hingga tiket berbagai moda angkutan publik, yang naik gila-gilaan terutama menjelang Lebaran. Ramadhan juga bermakna bulan kebaikan. Orang berlomba menunjukkan kebaikan terhadap sesame dan ibadah shaum memang ajang untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang sabar, disiplin, jujur, bertenggang rasa, dan selalu mengupayakan hasil yang terbaik. Karena itu, menjaga spirit Ramadhan menjadi sebuah keharusan. Dan, akan lebih bermakna bila spirit itu itu tidak hanya mencuat di saat ibadah shaum dilakukan, namun terus terjaga sepanjang masa