EFEK SOSIAL IBADAH SHAUM
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Secara etimologi, shaum berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Sedangkan secara terminologi, shaum adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu.
Pada hakikatnya bulan Ramadan melatih seseorang untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istiqamah, menerapkan pola hidup selektif, yang diharapkan terus berlanjut secara sinambung pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, di samping sebagai ibadah habl min Allah pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, tak pelak lagi, sepanjang bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Ada tiga aspek yang bisa diamati sebagai buah dari shaum Ramadlan, yaitu kesehatan fisik dan mental serta kesalehan sosial. Ketiganya bisa diamati dengan pendekatan medis dan psikologis, apakah efek yang ditimbulkan puasa bagi seseorang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental. Namun, menyangkut aspek metafisik-spiritual, hal itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena seseorang tidak punya kewenangan dan kemampuan untuk mengukur keikhlasan dan ketakwaan seseorang. Tak ada yang tahu kualitas dan kedalaman ibadah shaum seseorang kecuali Allah.
Dan sungguh, ketika menjalani ibadah shaum, seseorang merasakan betul kehadiran Allah di mana pun ia berada sehingga ia senantiasa berlaku jujur, senantiasa menyebarkan vibrasi kebaikan dan kedamaian. Efek sosial-psikologis ibadah shaum mudah sekali kita amati dan rasakan terutama selama bulan Ramadhan. Tiba-tiba kita menemukan aura spiritual yang begitu kental dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat. Televisi serta radio pun berlomba menyajikan acara keagamaan semenarik mungkin, atau kita merasakan terjadinya perubahan amat drastis, mayoritas masyarakat Indonesia berubah menjadi santun, mampu menahan diri, jujur, dan tidak ingin menyakiti orang lain. Pendeknya, selama Ramadhan kita menemukan masyarakat yang beradab dan religius.
Dengan demikian, seperti disinggung di atas, di samping sebagai aktivitas fisik, ibadah shaum juga secara sekaligus sebagai aktivitas psikis dan sosial. Secara fisik, ibadah shaum berarti menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kontak seksual semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara psikis, ini berarti penahanan diri dari upaya memanjakan gelora hawa nafsu yang dapat berimplikasi buruk pada dirinya. Dan, secara sosial, kata Hasan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), ibadah shaum melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan.
Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadan bahkan sejak awal memasuki Ramadhan sudah terlihat kepekaan itu dengan berbuka bersama di Masjid-masjid, di suarau, di kantor bahkan di jalan-jalan, dan semakin lama semakin terasa rasa kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan kita pada sesama. Sikap hidup dengan cita rasa kemanusiaan yang tinggi inilah yang disebut dalam Kitab Suci sebagai al’aqabah, atau jalan yang sulit (tapi mulia dan benar), yaitu perjuangan untuk membebaskan kaum mustadh’afin (orang-orang yang terbelenggu dan tertindas).
Sebab, ibadah ritual apa pun, tak terkecuali ibadah ibadah shaum, dalam pandangan Islam tidak memiliki nilai apa pun kalau tidak mempunyai dampak positif, secara internal pada dirinya dan secara eksternal pada orang lain sekaligus. Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh Umar ibn Khattab tatkala mengatakan, “Betapa banyak orang yang beribadah shaum, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari shaumnya itu kecuali lapar dan dahaga.”
Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam. Demikianlah, menurut Al Quran, salah satu hikmah ibadah shaum adalah untuk mendidik jiwa agar mencapai derajat takwa, pribadi yang mampu menahan diri dari berbagai godaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, lagi-lagi, pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa-ibarat baterai telepon seluler-daya setrumnya hanya bertahan sebulan? Bukankah mestinya puasa sebulan memiliki daya setrum penyebar kebajikan setidaknya selama setahun? Ini dikarenakan kebanyakan dari orang yang beribadah shaum pada realitasnya hanya pada shaum syariat, bukan shaum khakikat.
Menurut Al-Gazali, ibadah shaum ada tiga tingkatan yaitu shaum orang awam, shaum orang khusus dan shaum orang super khusus. Ibadah shaum orang awam sekedar menahan perut dan kemaluan dari mengikuti ajakan syahwat. Ibadah shaum orang khusus ialah menghindari pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota tubuh dari berbagai dosa. Sedangkan shaumnya orang super khusus ialah mengendalikan hati dari berbagai keingian yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga, menahan hati dari selain Allah secara total. Ibadah shaum orang awan baru sebatas shaum syariat, sedangkan shaum orang khusus dan shaum orang super khusus sudah masuk kategori shaum hakikat.