TRANSFORMASI DIRI DALAM RAMADHAN
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Uiversitas Muhammadiyah Tangerang)

Proses kembali kepada yang fitrah merupakan wujud dari transformasi diri, artinya kita dulu pernah fitrah ketika dilahirkan kemudian tidak fitrah dan dengan ibadah shaum ramadhan ini kita dilatih untuk kembali ke yang fitrah lagi. fitrah adalah kesucian yang pernah kita rasakan ketika bayi, saat bayi kita tidak merasakan apa apa, nangis kita fitrah (tidak ada rasa sedih) ketawa kita fitrah (tidak dengan hati yang gembira meluap luap) dan saat itu hidup tiada khawatir. tidak pernah kita berpikir saat bayi, besuk kit akan makan apa,kita hanya percaya pada dunia luar bahwa dirinya pasti dipelihara pasti diberi makan dan seterusnya.
Dalam konteks keindonesiaan, transformasi diri dan sinkronisasi antara kehidupan agama dan perilaku sehari-hari sudah menjadi suatu keharusan. Coba Anda jejakkan kaki ke mal-mal mewah di Jakarta selama bulan puasa ini. Apa yang Anda lihat dan rasakan? Coba Anda luangkan waktu sejenak mengamati suasana perkantoran dan angkutan kota yang berlalu lalang tiada henti? Apa yang berubah dari hari-hari sebelumnya? Alangkah indahnya, bila manusia-manusia baik kaya atau miskin yang kita temui di jalan, lorong gang dan perkantoran mengambil sikap hati merendah, berserah, jauh dari kesombongan dan maksud jahat.
Berbagai renungan di bulan Ramadan berseliweran setiap jam. Dai-dai kondang membawakan dakwah-dakwah segar di hadapan pemirsa. Satu tema yang menonjol adalah ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus. Kita juga dituntut mampu mengendalikan diri sehingga ketika bulan puasa berakhir, kita mengalami proses pencerahan pikir dan pencahayaan hati dalam wujud self-restrain (pengendalian diri) dalam menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup sehari-hari. Sebuah transformasi diri yang menjadi momentum untuk transformasi yang berkelanjutan. Sensitif terhadap penderitaan sesama, cinta damai dan toleran, tidak korup, tidak berbuat kejahatan, dan memiliki etos untuk selalu berorientasi pada perbaikan.
Tampaknya mudah dan ‘indah’ bila menjalankan ibadah dalam suasana yang serba berkecukupan. Namun, ujian sebenarnya, dalam agama apapun, justru ketika kita tetap bertakwa dan beribadah kepada-Nya kala kita didera musibah dan kesulitan hidup. Krisis yang membuat bangsa ini terpuruk dan tertinggal dari bangsa-bangsa lain tidak lepas dari lemahnya penghayatan dan penerapan ketakwaan itu dalam perilaku sehari-hari. Kemiskinan dan nestapa terjadi di hampir seluruh pelosok negeri. Namun, korupsi, kolusi, dan konspirasi dilakukan tanpa peduli.
Hal yang paling penting dan patut menjadi bahan renungan adalah, mengapa bulan ramadhan ini tidak dijadikan momentum untuk mensinkronkan kehidupan rohani dengan perilaku sehari-hari dari bangsa ini? Internalisasi nilai-nilai puasa mestinya mampu menjauhkan diri dari praktik-praktik mengumpulkan harta benda dengan cara yang tidak halal. Membuka mata hati (rohani) kita sehingga tidak ‘betah’ hidup dalam area abu-abu. Sebab, tujuan puasa sejatinya agar akhlak dan perbuatan bertambah mulia. Tidak hanya secara vertikal dalam kaitannya dengan Sang Pencipta, tapi juga secara horizontal dalam hubungan antarmanusia.
Oleh sebab itu, bila bulan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya transformasi diri, manusia-manusia Indonesia akan selalu ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Bangsa ini akan selamanya dikenal sebagai bangsa dengan tingkat korupsi yang tinggi di dunia dan selalu dipandang remeh oleh bangsa lain. Satu pertanyaan besar akan selalu mengemuka di benak orang yang beragama apalagi yang tidak beragama, “Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang religius dicap (akrab) dengan image negatif seperti korupsi, kolusi, teroris dan kaya tapi miskin? Karena itu, mari tanamkan dalam tekad kita, semoga ibadah shaum di bulan Ramadhan yang kita jalankan sepenuh keikhlasan dan kekhusyukan bisa membawa kita pada transformasi diri yang berkelanjutan dan menjadikan kita pribadi yang bertakwa baik dalam kehidupan agama maupun dalam perilaku sehari-hari. Wallahu A’lam Bishowwab!