APA SESUNGGUHNYA RADIKALISME ITU, DAN SIAPA?!
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Obrolan tentang radikalisme atau fundamentalisme belakangan ini telah menyita perhatian masyarakat nyaris di berbagai ruang publik. Radikalisme dituding sebagai akar dari tumbuhnya aksi terorisme, vandalisme dan anarkisme di tengah masyarakat. Namun seiring dengan tampilnya sosok Osamah bin Laden yang dituding sebagai otak dibalik peristiwa 11 September 2001 disusul dengan merebaknya aksi bom di berbagai wilayah di tanah air, istilah radikalisme acapkali diopinikan dan diidentikkan dengan ideologi Islam. Pertanyaannya kemudian adalah cukup relevankah pengidentifikasian tersebut?
Tentu pengidentifikasian itu berlebihan dan mayoritas umat Islam jelas menolak opini tersebut. Apalagi, opini itu cenderung ’menuduh’ bahwa Islam identik dengan radikalisme. Sebab faktanya, fenomena radikalisme ataupun fundamentalisme sebenarnya tidak hanya terjadi pada masyarakat Islam, namun seluruh agama yang ada berpotensi menghadapi persoalan radikalisme. Latar belakang utamanyanya berangkat dari sikap fanatik berlebihan tanpa dibarengi pemahaman yang memadai terhadap keberagamaan dan mendorong munculnya sikap keberagamaan radikal.
Pembiasan makna
Secara semantik, radikalisme ialah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dalam Ensiklopedi Indonesia (Ikhtiar Baru – Van Hoeve, cet. 1984) diterangkan bahwa “radikalisme” adalah semua aliran politik, yang para pengikutnya menghendaki konsekuensi yang ekstrim, setidak-tidaknya konsekuensi yang paling jauh dari pengejawantahan ideologi yang mereka anut. Dalam dua definisi ini “radikalisme” adalah upaya perubahan dengan cara kekerasan, drastis dan ekstrim. Adapun dalam Kamus Ilmiyah Populer karya Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry diterangkan bahwa “radikalisme” ialah faham politik kenegaraan yang menghendaki adanya perubahan dan perombakan besar sebagai jalan untuk mencapai taraf kemajuan.
Radikalisme atau fundamentalisme sendiri sesungguhnya tidak ada di dalam terminologi Islam, khususnya pada kamus sekte di tubuh Islam. Istilah ini dikenalkan dan dikembangkan oleh Barat untuk menyebut kelompok Islam murni. Kelompok ini disinyalir telah melakukan berbagai aksi kekerasan atau teror terhadap masyarakat Barat. Aksi tersebut juga muncul sesaat setelah kaum Yahudi yang didukung oleh Negara-negara Barat, khususnya Amarika, mendirikan negara di tanah bangsa Palestina sejak tahun 1947
Artinya Radikalisme merupakan pemahaman yang juga banyak menjangkiti berbagai agama dan aliran-aliran sosial, politik, budaya, dan ekonomi di dunia ini. Tetapi dalam masa pasca perang dingin, yang menjadi fokus pergunjingan di dunia ialah apa yang diistilahkan dengan Radikalisme Islam. Isu sentral dalam pergunjingan ini adalah munculnya berbagai Gerakan Islam (harokah islamiyah) yang menggunakan berbagai bentuk kekerasan dalam rangka perjuangan untuk mendirikan apa yang kerap disebut-sebut sebagai “Negara Islam”.
Senyampang arus informasi glonal yang sedang dikendalikan oleh negara-negara Barat dan sekutunya, stigma radikalisme dan fundamentalisme yang melahirkan terorisme serta merta melekatkannya dengan Islam. Karenanya definisi radikalisme dan fundamentalisme Islam semakin bias, sehingga meliputi pula segala bentuk militansi beragama di kalangan Muslimin diidentikkan dengan “ekstrimis Islam” atau dalam istilah lain adalah “Islam radikal” atau “Islam fundamentalis”. Fenomena inilah sesungguhnya sudah banyak dipahami oleh masyarakat Muslim. Meski banyak pula yang bingung meresponnya karena tumbuh suburnya mentalitas rendah diri berhadapan dengan superioritas Barat dan sekutunya.
Harus komprehensif
Radikalisme dalam makna yang positif adalah keinginan adanya perubahan kepada yang lebih baik. Dalam istilah agama disebut ishlah (perbaikan) atau Tajdid (pembaharuan). Adapun radikalisme dalam makna negatif adalah sinonim dengan makna ekstrimitas, kekerasan dan revolusi. Dalam istilah agama disebut ghuluw (melampaui batas) atau ifrath (keterlaluan). Kedua kutub makna yang amat bertolak belakang ini berakibat munculnya dua kutub gerakan keagamaan yang konfrontatif di Dunia Islam. Di sinilah letak kerancuan generalisasi Radikalisme Islam dalam makna serba negatif sehingga semangat anti Islam memperoleh tempat penyalurannya.
Karena tidak dapat membedakan antara Radikalisme Islam dalam makna positif dengan Radikalisme dalam makna negatif. Kedua semangat Radikal tersebut disamakan, karena keduanya menghendaki perubahan total sosial dan politik bangsa dan negaranya. Walaupun perbedaan keduanya sangatlah konfrontatif dan tidak mungkin dipertemukan dari sisi mana pun. Namun demikian pandangan positif dan negatifnya terhadap radikalisme terletak pada cara merealisasikan dan mengekspresikannya serta dasar pandang para pengamatnya. Pemerintah statusquo lazimnya amat alergi dengan isu radikalisme, berhubung kaum radikal amat gigih menuntut adanya perubahan sosial politik yang berarti pula akan sangat tajam mengoreksi kalangan statusquo.
Keinginan adanya perubahan sosial – politik masih dianggap wajar dan positif bila disalurkan melalui jalur perubahan yang benar dan tidak mengandung resiko instabilitas politik dan keamanan. Dalam makna ini, radikalisme adalah wacana sosial – politik yang positif. Adapun perubahan yang cepat dan menyeluruh (revolusi), selalu diikuti oleh kekacauan politik dan anarkhi, sehingga menghancurkan infra struktur sosial – politik bangsa dan negara yang mengalami revolusi tersebut. Dalam makna ini, radikalisme adalah sebagai pemahaman yang negatif dan bahkan dapat pula dikatagorikan sebagai bahaya laten ekstrim kiri ataupun kanan.
Akhirnya, berbagai gerakan radikal ekstrim yang belakangan mewujud dalam beraneka label entah itu NII, Gerakan Jihad, Jamaah Islamiyah dan lain sebagainya akan sangat laku dijual di kalangan Ummat Islam yang mempunyai semangat agama tetapi jauh dari ilmu agama dan gerakan tersebut akan dapat dieliminir dengan bangkitnya semangat belajar ilmu agama. Berbagai ketidakpuasan terhadap sikap pemerintah yang terus menerus mencurigai Ummat Islam, akan menjadi isu pemicu semangat perlawanan Ummat Islam yang tidak dibimbing ilmu agama dengan model perlawanan yang radikal ekstrim tersebut. Isu Radikalisme Islam sesungguhnya bukanlah dari Ummat Islam. Akan tetapi dari salah satu bentuk gerakan Anti Islam yang terus menerus dilancarkan oleh Barat dalam rangka semangat perang salib dan imperialisme modern. Radikalisme dalam pengertian negatif amat ditentang dalam Islam, bahkan inilah yang benar-benar “bid’ah dhalalah” (penyimpangan yang sesat).