SPIRIT PLURALISME DALAM RAMADHAN
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Kemeriahan Ramadhan meski sebatas simbol, kita saksikan dalam berbagai aktivitas di ruang publik. Iklan di televisi, spanduk, rubrik di media cetak bahkan berbagai aktivitas keseharian sepanjang bulan Ramadhan tak urung perlu beradaptasi dengan nuansa religius yang ditampilkan oleh bulan penuh berkah ini. Harus diakui dengan jujur, tidak ada selebrasi perayaan keagamaan dan kemasyarakatan di tanah air yang bisa menyaingi kemeriahan dalam bulan Ramadhan. Ringkasnya, Ramadhan telah mengubah pola hidup kolektif berbangsa dan bermasyarakat di negara yang notabene bukan berasaskan Islam.
Sebagai penghuni mayoritas di tengah masyarakat bangsa yang multi agama, multi etnis dan multi ideologi, kaum muslimin memang perlu menghayati ajaran agamanya untuk mendorong terciptanya saling pengertian di antara sesama pemeluk agama di Indonesia. Praktik ajaran agama di bulan Ramadhan memang bersifat ekslusif dalam pengertian, bahwa ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan hanya dilakukan oleh kaum muslimin, namun pesan-pesan dalam ibadah puasa Ramadhan sejatinya mampu diaplikasikan agar tercipta kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang dilandasi oleh semangat saling menghargai perbedaan di antara aliran-aliran keagamaan di tanah air.
Banyak kalangan yang mensyukuri, bahwa bulan Ramadhan kali ini dirayakan tanpa banyak perbedaan waktu di antara organisasi kemasyarakatan dan keagamaan di dalam tubuh umat Islam Indonesia. Dan jika tak ada aral melintang, berakhirnya bulan Ramadhan pun akan sama. Dan kalaupun terjadi perbedaan, rasanya kaum muslimin di tanah air hari demi hari semakin menyadari pentingnya menjaga keharmonisan dan kerukunan meskipun berbeda. Sebab perbedaan dalam pelaksanaan ritual keagamaan merupakan anugerah yang layak untuk disyukuri dan menambah luas pemahaman terhadap keyakinan masing-masing.
Salah satu tema yang kerap dikemukakan oleh para muballigh, juru dakwah, ulama dan khatib-khatib adalah persaudaraan antar sesama kaum beriman, atau lazim dikenal dengan istilah ukhuwwah Islamiyah. Dalam situasi ketika umat Islam terpecah-pecah dan dalam banyak kasus terjerembab dalam permusuhan maka tema persaudaraan Islam tentu sangat relevan. Banyak pihak yang menganggapnya sebagai jalan keluar dari kesulitan besar yang dihadapi oleh umat Islam khususnya di Indonesia.
Ukhuwwah Islamiyah acap didengungkan sebagai resep mujarab untuk mengatasi persoalan-persoalan yang kini dihadapi oleh umat Islam di seluruh dunia. Pangkal soalnya tentu dilatari oleh menggejalanya krisis demi krisis yang melibatkan umat Islam di berbagai penjuru bumi. Selain itu, Islam merupakan agama yang paling pesat dan luas menyebar di antara umat manusia dewasa ini. Tak heran apabila, banyak tokoh-tokoh muslim di muka bumi menganggap, persaudaraan berdasarkan iman amat krusial dan dapat menjadi formula manjur untuk mengobati berbagai penyakit yang menghinggapi umat Islam di seantero bumi.
Memang kaum muslimin dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain menunjukkan kesamaan dan keseragaman yang sangat mengesankan. Khususnya dalam hal-hal yang menyangkut pelaksanaan kewajiban ibadah pokok, ibadah puasa Ramadhan misalnya. Umat Islam saat ini memiliki titik kesamaan luar biasa, amat jauh melebihi umat-umat lain. Akan tetapi tidak berarti, bahwa kaum muslimin di mana saja adalah sama. Ruang untuk berbeda secara absah satu sama lain sungguh luas, yang dalam sejarah terbukti menjadi salah satu unsur dinamika umat. Dengan begitu, memberi dasar pijakan bagi terwujudnya konsepsi persaudaraan sehingga perbedaan menjadi rahmat dan tidak menjadi laknat bagi umat Islam.
Salah satu bentuk fithrah Allah adalah bahwa manusia akan tetap selalu berbeda-beda sepanjang masa. Sungguh merupakan mimpi di siang bolong jika mengharapkan bahwa umat manusia di kolong langit satu dan sama dalam segala hal. Kalaupun ada kesatuan umat manusia, itu mewujud dalam kesatuan harkat dan martabat manusia, karena memang manusia secara asal muasalnya diciptakan satu, yaitu dari jiwa yang satu. Hanya saja perbedaan antar manusia itu dari satu pribadi ke peribadi yang lainnya dalam pandangan Allah untuk dinilai mana yang paling baik tingkat ketakwaannya.
Masih banyaknya kecenderungan pola tingkah laku yang tidak seiring dengan pesan moral puasa sebagai piranti menuju ketakwaan dengan substansi keimanan yang direfleksikan dalam realitas menuju hidup dan kehidupan yang lebih baik dan bermakna merupakan indikator penting bagi minusnya pelaksanaan pesan-pesan agama yang mengatasi unsur simboliknya. Utamanya perilaku beribadah yang tidak tenggang rasa atas perbedaan pelaksanaan ritus-ritus ibadah antar sesama umat Islam sendiri maupun umat beragama lain sehingga menyebabkan ketegangan bahkan dalam banyak kasus muncul sikap permusuhan akibat perbedaan-perbedaan tersebut.
Akhirnya, makna dari simbol-simbol keutamaan Ramadhan pada hakikatnya mengupayakan terealisasinya pesan-pesan moral puasa Ramadhan di tengah-tengah realitas kemanusiaan sepanjang sejarahnya. Karena pesan moral puasa seperti penyucian diri dengan meningkatkan frekuensi ibadah mahdhah dan penyucian harta kekayaan yang dimiliki, serta berbuat baik sesama manusia dalam pengertian menjaga semangat pluralisme- bukan hanya berlaku pada saat diwajibkannya puasa (selama bulan Ramadhan), tetapi tanpa batas sepanjang sejarah kemanusiaan. Dengan demikian, Ramadhan bisa hadir sepanjang zaman. Wallahu a’lam bishowwab!