IKHLAS TANPA PAMRIH
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Ketua Majlis Tabligh Muhammadiyah Kota Tangerang)

Islam selalu mensyaratkan segala amal perbuatan harus dilandasi oleh motif ikhlas atau tanpa pamrih dan semata-mata dilakukan karena Allah SWT. Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan motifnya karena Allah SWT semata. Maksud motif disini adalah sesuatu yang menjadi pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan satu tujuan yang dituntutnya. Maksud pendorong adalah penggerak kehendak manusia yang mengarah kepada amal perbuatan. Sedangkan tujuan pendorong amat banyak dan beragam. Ada yang bersifat materil dan ada pula yang bersifat spritual. Ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat sosial.
Bahkan ada yang bersifat duniawiyah dan ada pula yang ukhrowiyah. Ada yang sederhana dan ada pula yang besar dan sangat serius, ada yang berkaitan dengan syahwat perut dan ada pula yang berkaitan dengan nafsu birahi. Ada yang berkaitan dengan kenikmatan akal dan ada pula yang berkaitan dengan rohani. Ada yang dilarang, mubah, dianjurkan dan ada pula yang wajib. Ikhlas punya arti melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan jujur. Ikhlas adalah suatu aktivitas yang dilakukan tanpa pamrih duniawiyah.
Ikhlas tanpa pamrih adalah menyengajakan semua amal ibadah, ketaatan dan ibadah semata-mata kepada Allah SWT. Untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridhaan-Nya. Bukan untuk tujuan-tujuan yang lainnya, seperti berpura-pura mengerjakan ketaatan, menampilkan diri di hadapan orang banyak mengharap pujian atau tamak untuk mendapatkan suatu pemberian. Dalam QS. Al bayyinah ayat 5, Allah berfirman, “Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan mereka kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.”
Menurut pandangan Al Harwi, ikhlas memiliki beberapa tingkatan; pertama tidak memandang bahwa ia telah berbuat sesuatu, kedua, tidak mengharap balas dan ganjaran dan ketiga tidak merasa puas dengan apa yang telah diperbuat. Artinya, ikhlas tanpa pamrih adalah berkontribusi dengan segenap kemampuan yang dimiliki dan tatkala kontribusinya dinikmati banyak orang, maka tak terlintas dalam benak pelakunya bahwa semua itu adalah karena kontribusi yang diberikan.
ikhlas tanpa pamrih juga tak memikirkan ganjaran dari perbuatan baik yang dilakukan, meskipun sekedar terima kasih, berbuat baik menjadi adalah wujud rasa syukur atas karunia kemampuan, anugerah dan ni’mat Allah kepadanya sehingga ia tak merasa perlu untuk memperoleh upah atau ganjaran atas kebaikannya. Dan yang terakhir Ikhlas tanpa pamrih juga menuntut pelaku untuk tidak berhenti dengan amal baik yang dilakukannya, selalu termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik kapan, dimanapun dan kepada siapapun, konsepsi faidza faroghta fanshob dipraktikan dalam kehidupan nyata.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita akan mendapatkan tiga tipe manusia dalam melakukan segala aktivitas dan segala amal-ibadahnya, yakni; mukhlis (orang yang ikhlas), munafik dan riya’. Keikhlasan akan membuahkan rahmat, kemunafikan akan membawa laknat, sedangkan riya’ membawa amalan kepada kesia-siaan. Keikhlasan punya misi membangun, sedangkan kemunafikan dan riya’ jelas merusak dan sia-sia. Karena itu, perilaku riya’ dan munafik, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Perilaku munafik jelas akan merusak dimanapun ia berada. Ia akan merusak diri dan lingkungan sosialnya. Begitu pula ornag yang riya’, amalan-amalannya tidak akan diperolehnya sedikitpun di hari kemudian.
Ikhlas, memang mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit praktikan dalam kenyataan keseharian. Untuk menjadi ikhlas, hati perlu dilatih secara konkrit. Tentu saja rintangan pun selalu menghadang. Tapi begitu rintangan-rintangan itu bisa dilewati, buah keikhlasan mudah diraih. Di saat semua aktivitas yang tiada tergoda oleh rayuan duniawi dan semuanya dilakukan hanya karena Allah. Orang mukmin yang benar adalah jika pendorong agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi duniawi, mementingkan apa yang ada disisi Allah SWT.
Secara sederhana dapat kita katakana, bahwa Alasan yang paling sering terdengar, “Ikhlas lebih mudah diucapkan”. Tentu selama kita lancar berbicara, semua mudah diucapkan. Padahal sesungguhnya ikhlas yang tersulit adalah menerima kenyataan sangat pahit atau menyakitkan. Tapi kalau menerima rejeki, sangat mudah untuk ikhlas. Ikhlas bukanlah untuk diucapkan, ikhlas harus dirasakan di hati lalu terwujud dalam sikap dan tindakan karena iman dan cinta kita kepada Tuhan. Jadi agak riskan, tatkala apa yang kita lakukan perlu diberikan embel-embel ikhlas tanpa pamrih, sebab mengatakan ikhlas tanpa pamrih adalah gambaran ketidak-ikhlasan dan sarat dengan pamrih duniawiyah. Wallahu a’lam bishowwab!