HIDUP BAHAGIA DENGAN BERBAIK SANGKA
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd

Berprasangka baik atau dalam bahasa agama disebut “husnudzon” merupakan sikap atau keadaan jiwa yang menilai segala sesuatu atau orang lain dengan penilaian yang positif. Orang yang mempunyai sikap husnudzon adalah orang selalu berupaya memberikan penilaian positif dan jauh dari kesan buruk, tidak dari sisi yang buruk ataupun tidak memandang orang lain dari perbuatan buruknya semata-mata, meskipun orang itu jelas-jelas telah melakukan perbuatan negatif (keburukan).
Maksudnya seluruh ucapan dan ragam gejala yang nampak pada tingkah laku orang lain diterima sebagaimana adanya tanpa diiringi dugaan-dugaan yang tidak baik, begitupun pula bila segala sesuatu yang tidak tercapai maka sikapnya tidak akan menjauh dari Allah SWT.
Sifat husnudzon merupakan salah satu sifat terpuji, keuntungan dari sifat ini yaitu dapat menahan diri, tidak terlalu mudah memberikan penilaian yang salah atau negatif, yang diakibatkan sifat dan tingkah laku orang lain, lebih-lebih kepada segala keputusan, sifat husnudzon selalu diliputi ketenagang dan ketentraman serta kedamaian. Jauh dari perasaan gelisah, was-was dan khawatir serta sakit hati.
Memang tidak sedikit diantara kita yang mengembangkan pola pikir hitam-putih. Positif dan negatif secara kurang proporsional dalam memandang dan menilai semua fenomena hidup. Parameter yang digunakan seperti fenomena waktu siang dan malam. Terang dan gelap. Semua kenyataan hidup yang dirasakan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan, apalagi menyusahkan yang mengalirkan air mata, maka hal itu dipandang sebagai hal yang negatif murni. Banyak contoh yang bisa dikemukakan. Sakit misalnya. Apalagi jika sakitnya parah dimana badan tergolek tidak berdaya serta membutuhkan banyak pengeluaran biaya. Juga kenyataan hidup yang lain, seperti keterbatasan ekonomi, kebangkrutan usaha, sulit mendapatkan pekerjaan dan sebagainya.
Kita pada umumnya tahu bahwa berprasangka buruk itu dilarang, tetapi dalam keseharian, betapa sulit menghindar dari perilaku ini. Prasangka artinya membuat ‘keputusan’ sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Padahal Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12). Dalam riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” (HR. Muttafaq’alaih)
Sebaliknya semua kenyataan hidup yang dirasakan menyenangkan, maka secara otomatis dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang positif. Hidup makmur serba kecukupan. Sehat terus menerus karena dukungan ekonomi cukup dan sejenisnya. Bahwa kesempitan merupakan sesuatu yang menyulitkan benar adanya. Bahwa kelapangan hidup merupakan sesuatu yang membahagiakan, benar pula adanya. Hanya kalau berfikir bahwa kesempitan itu pasti ketidak-baikan. Sedang kelapangan pasti kebaikan. Jelas kurang proporsional. Ketahuilah dalam persepektif keselamatan di alam akhirat, keduanya-duanya bisa merupakan kebaikan dan bisa pula merupakan ketidak-baikan.
Baik atau tidak baik, tolok ukurnya bukan pada fenomenanya. Tapi penyikapan manusianya atas fenomena yang dialami. Orang-orang yang berada dalam kesempitan, bisa positif jika penyikapannya positif. Sebaliknya kelapangan, bisa berbuah negatif jika penyikapannya negatif. Dan untuk mengukur apakah kesempitan dan kelapangan berbuah negatif atau positif. Jika kesempitan dan kelapangan makin membuat seseorang makin dekat dengan Alloh. Makin taat dan bertakwa kepada-Nya. Itulah tanda bahwa kesempitan dan kelapangan berbuah positif.
Sebaliknya kesempitan dan kelapangan berbuah negatif jika membuat seseorang makin jauh dari-Nya. Banyaknya diantara manusia mencari kelapangan untuk banyak tertawa. Sebaliknya berusaha menghindari kesempitan dalam bentuk apapun agar terhindar dari berurai air mata. Padahal keduanya laksana siang dan malam yang selalu diperputarkan oleh Allah pada setiap manusia. Tidak ada manusia yang bisa bahagia selamanya. Meskipun kaya-raya dan berkuasa sekalipun. Dan tidak ada pula manusia yang menangis terus-menerus meski hidupnya paling miskin sekalipun.
Dengan kesadaran semacam itu, maka kita akan mampu membangun pola pikir positif atas semua pengalaman dalam hidup. Sempit dan lapang bisa dipersepsi sama baiknya bagi kemaslahatan diri. Kalaupun sempit disikapi laksana minum obat dikala sakit. Minum obat rasanya pahit. Tapi justru untuk tujuan penyembuhan. Ketika lapang tidak lalu menjadikan diri lupa daratan. Justru ketika lapang hati makin mawas diri. Makin menyadari bahwa dalam kelapangan tantangannya justru jauh lebih besar dibanding kesempitan. Wallahu a’lam bishowwab!