PLURALISME, KESALEHAN FORMAL DAN JALAN TENGAH
Oleh : Drs. DESRI ARWEN, M. Pd

Dalam surat AL-Maidah ayat 48, Allah menguraikan apa yang sekarang disebut sebagai pluralisme. Kemajemukan atau pluralitas itu adalah suatu realitas yang telah ditakdirkan Allah SWT. Dalam firman-Nya disebutkan, “seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan sebagai umat yang tunggal, tapi Allah ingin menguji kamu berkenaan dengan hal-hal yang telah dianugerahkan kepada kamu….”
Perbedaan adalah anugerah. Setiap orang punya kelebihan yang sudah ditentukan Allah. Dalam Al-isra ayat 84, Allah berpesan kepada nabi Muhammad, “Katakan Muhammad bahwa setiap kelompok atau orang itu bekerja sesuai dengan bentukannya. “ Nabi juga pernah bersabda, “setiap orang dibuat mudah untuk melakukan sesuatu yang untuk itu dia diciptakan. “
Bagi orang yang diciptakan untuk menjadi manajer atau dokter, dia akan mudah mencapainya. Inilah yang kita sebut sebagai bakat atau potensi pribadi dalam diri, yang berbeda antara satu dan lainnya. Maka pluralitas adalah suatu kenyataan social yang merupakan keputusan Tuhan.
Dalam surat Al-Maidah yang dikutip diatas, kata al-khairat (kebaikan) disebutkan dalam bentuk jamak. Jadi kebaikan itu tidak hanya satu, dan jalan menuju Tuhan itu juga tidak hanya satu. Maka dalam surat Al-ankabut ayat 69 digunakan kata subulun: “Barang siapa betul-betul berusaha dengan keras menuju Aku, akan Aku tunjukan kepadanya jalan-jalan-Ku. “
Di lain surat, Allah juga menyebutkan kata subulussalam ( Jamak ), bukan sabilussalam ( tunggal ) : “Dengan Al-Quran itu, Allah akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang menginginkan keridaannya berbagai jalan keselamatan. “ Dalam surat Al-Baqarah ayat 148, Allah juga menyebutkan, “setiap kelompok itu mempunyai titik orientasi ke mana mereka menghadap.”
Secara tersirat, ayat ini ingin mengungkapkan bahwa kita tidaklah perlu mengurusi mengapa manusia itu bermacam-macam orientasinya. Bukan hak kita menanyakannya. Dalam Al-Maidah ayat 48, Allah berfirman, “dan setiap kelompok itu telah kami ciptakan untuk mereka jalan menuju kebenaran dan metodenya.” Syir’ah itu adalah jalan menuju kebenaran, dan minhaj adalah metode. “setiap kelompok itu sudah kami tetapkan ritus-ritusnya yang mereka tempuh” ( Al-Hajj : 67 )
Sejumlah ayat dan yang terungkap menegaskan bahwa pluralism itu suatu keharusan. Dalam sejarahnya, umat islam itu sangat toleran. Berbeda dengan orang-orang barat sekarang ini yang baru belajar bergaul dengan agama lain. Kalau selama ini mereka keras sekali berbicara tentang toleransi dan pluralism, itu lantaran pengalaman intra-kristen setelah terjadi digerakan-gerakan reformasi. Reformasi disini maksudnya ialah munculnya gerakan semacam Calvinism, yaitu gerakan protestan, yang harus dibayar dengan perang atas nama agama. Takwa merupakan basyirul mukminin wa libasul muslimin ( selimut bagi orang-orang yang pasrah kepada Allah )
Mari kita renungkan hubungan antara takwa dan al-birru ( Kebajikan atau perbuatan yang baik ). Istilah ini banyak sekali digunakan dalam Al-Quran ataupun hadis. Salah satunya dalam surat Ali Imran ayat 92: “kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sebelum mendermakan sebagian harta yang kamu cintai.”
Dari kata al-birru juga lahir kata “mabrur”, yang biasanya dikaitkan dengan haji. Dalam sebuah sabda Nabi Muhammad SAW disebutkan: “Haji mabrur tidak ada balasanya melainkan Surga. Kata “Mabrur” ada sangkut-pautnya juga dengan al-birru, yaitu suatu perbuatan yang kita lakukan sehari-hari yang didasarkan pada takwa.
Secara umum, dalam Al-Quran dikatakan ada dua asas hidup yan menjadi pegangan manusia: asas takwa kepada Allah dan keinginan Mencapai rida-Nya. Diluar dua asas ini diumpamakan seperti fondasi sebuah bangunan yang dibuat ditepi jurang yang retak. Kemudian, setalah bangunan itu berdiri, langsung runtuh. Neraka jahanam kemudian menyambutnya. Hubungan antara takwa dan kebajikan juga terlihat saat kita melakukan kurban dengan hewan. Tentu saja ini tidak ditujukan member sesajen kepada Allah SWT.
Surat Al-Hajj ayat 36 menegaskan : “Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah kepada orang-orang yang perlu. “ kemudian pada ayat selanjutnya di surat yang sama, Allah mengingatkan : “tidak akan sampai kepada Allah daging atau darah kurban itu, tapi yang sampai kepada-Nya ialah Takwa didalam dadamu.”
Ini merupakan sebuah peringatan agar kita melampaui tindakan-tindakan lahiriah untuk menangkap makan terdalam. Karena hanya dengan begitu, janji Allah terhadap orang yang beriman Insya Allah terwujud, yaitu mendapatkan Kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sebaliknya, jika kita hanya berhenti pada hal-hal yang lahiriah yang sering disebut sebagai kesalehan formal, hal itu sering kali mengecoh atau menipu, bahwa sangat rentan terhadap kekeliruan. Hal ini tidak berarti bahwa yang lahir itu tidak penting. Nabi Muhammad pernah bersabda: “yang lahir itu bisa menjadi indikasi dari apa yang ada dalam yang batin.”
Namun yang primer tetaplah batin. Yang maknawi, real dan esensial. Adapun yang sekunder lahiriah. Ini merupakan renungan mengenai takwa yang dikaitkan dengan al-birru. Kita tidak boleh berhenti di pinggiran lingkaran dalam beragama, seperti simbolisasi atau yang bersifat lahiriah. Namun, kita harus terus berusaha sampai pada makna beragama.
Kali ini mari kita merenungkan takwa dan keadilan dalam kaitannya dengan jalan tengah. Dalam Al-Quran, Allah menyebut umat islam sebagai umat tengah ( ummatan wasathan ). Demikianlah kami jadikan kamu ini umat tengah. Agar supaya kamu bisa menadi saksi atas umat manusia, sebagaimana juga Rasul ( Muhammad ) itu juga telah menjadi saksi atas kamu sekalian.” ( Al-Baqarah: 143 ).
Menjadi saksi atas umat manusia itu, artinya kita mampu menempatkan diri begitu rupa dalam menilai umat manusia, sehingga kita bisa melihatnya secara adil. Sebab, keadilan adalah bagian dari takwa. Ada temuan menarik diri seorang ahli bahasa arab keturunan bagdad yang hidup sekitar 1.000 tahun silam.
Dalam salah satu bukunya, ia menyebutkan salah satu istilah dalam Al-Quran, yaitu al-qisthi. ( keadilan atau tengah ), ternyata berasal dari bahasa yunani, yang kemudian menjadi bahasa inggris, justice ( adil ). Keadilan merupakan jalan tengah dari sikap-sikap apriori, antara suka dan tidak suka. Ali RA lah yang mengatakan : “perhatikan apa yang dikatakan orang dan jangan diperhatikan siapa yang mengatakan.”
Kita dianjurkan untuk : “Ambillah hikmah itu dan tidak akan berbahaya bagi kamu, dari bejana apapun hikmah itu keluar “ ini untuk menghindari rasa suka atau tidak yang mempengaruhi sikap kita. Sulitnya menjadi “umat jalan tengah” digambarkan dalam surat Asy-Syura : “Dan perkara mereka putuskan melalu musyawarah.” Selain dengan musyawarah, ciri lain orang beriman digambarkan dalam ayat berikutnya : “Dan ( bagi ) orang-orang yang apabila diperlakukan secara zalim mereka melawan.
Dan balasan suatu keburukan harus dibalas dengan keburukan serupa. Maka barang siapa member maaf dan beradamai, Allah yang akan menanggung pahalanya….” ( Asy-Syura : 39-43 ). Dalam deretan ayat ini Allah mengajarkan prinsip harus ditegakan seusai dengan kondisinya. Disatu sisi, ada prinsip yang memang seorang muslim dituntut berisap tegas. Tapi dalam hal ini memang pendekatan kemanusiaan harus diberlakukan seorang muslim harus berusaha merealisasi pendekatan tersebut.
Ini merupakan jalan tengah antara orientasi hokum yang sangat kental pada agama yahudi disatu sisi dan orientasi kasih yang ada dalam agama nasrani. Allah SWT memang mengutus Nabi isa menetralisasi kekerasan dan kekaukan orientasi hokum agama yahudi. Pada perkembangannya, aspek hokum itu hilang sama sekali dan kembali menjadi berat sebelah. Datanglah Islam untuk menyatukan kembali dua aspek hokum dan kemanusiaan ( kasih ) inilah yang disebut jalan tengah. Jadi diantara fakta pluralisme, kesalehan formal, kita cari jalan terbaik melalui jalan tengah. Semoga..!