THE ORGANIZATION FOR STUDENT OF UNIVERSITY
(Between Self Actualization And Links Establishment)
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd

PENDAHULUAN
Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat.
Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri. Tidak dapat dipungkiri bila generasi muda khususnya para mahasiswa, selalu dihadapkan pada permasalahan global. Setiap ada perubahan, mahasiswa selalu tampil sebagai kekuatan pelopor, kekuatan moral dan kekuatan pendobrak untuk melahirkan perubahan. Oleh karena itu kiranya sudah cukup mendesak untuk segera dilakukan penataan seputar kehidupan mahasiswa tersebut.
Dalam sejarahnya mahasiswa merupakan kelompok dalam kelas menengah yang kritis dan selalu mencoba memahami apa yang terjadi di masyarakat. Bahkan di zaman kolonial, mahasiswa menjadi kelompok elite paling terdidik yang harus diakui kemudian telah mencetak sejarah bahkan mengantarkan Indonseia ke gerbang kemerdekaannya. Pergolakan dan perjalanan mahasiswa Indonesia telah tercatat dalam rentetan sejarah yang panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia, seperti gerakan mahasiswa dan pelajar tahun 1966 dan tahun 1998. Masih dapat kita ingat 12 tahun yang lalu gerakan mahasiswa Indonesia yang didukung oleh semua lapisan masyarakat berhasil menjatuhkan suatu rezim tirani yaitu ditandainya dengan berakhirnya rezim Soeharto.
Legenda perjuangan mahasiswa di Indonesia sendiri juga telah memberikan bukti yang cukup nyata dalam rangka melakukan agenda perubahan tersebut. Tinta emas sejarahnya dapat kita lihat dengan lahirnya angkatan ‘08, ‘28, ‘45, ‘66, ‘74, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri tetapi tetap pada konteks kepentingan wong cilik. Terakhir lahirlah angkatan bungsu ‘98 tepatnya pada bulan Mei 1998 dengan gerakan REFORMASI yang telah berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan dan selanjutnya menelurkan
Visi Reformasi yang sampai hari ini masih dipertanyakan sampai dimana telah dipenuhi. Dengan demikian adalah sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk menjadi pelopor dalam melakukan fungsi control terhadap jalannya roda pemerintahan sekarang. Bukan malah sebaliknya. Agenda reformasi adalah tanggung jawab kita semua yang masih merasa terpanggil sebagai kaum intelektual, kaum yang kritis dan memiliki semangat yang kuat. Dan tanggung jawab ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai rasa sosial yang tinggi.
Bukan orang-orang kerdil yang hanya memikirkan perut, golongannya dan tidak bertanggung jawab. Hanya lobang-lobang kematianlah yang mampu menjadikan mereka untuk berpikir bertanggung jawab. Jangan pikirkan mereka, mari pikirkan solusi untuk menghibur Ibu Pertiwi yang selalu menangis dengan ulah-ulah anak bangsanya sendiri. Kondisi tersebut tidak terlihat lagi pada masa kini, mahasiswa memiliki agenda dan garis perjuangan yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Sekarang ini mahasiswa menghadapi pluralitas gerakan yang sangat besar.
Meski begitu, setidaknya mahasiswa masih memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat di daerahnya masing-masing. Mahasiswa sudah telanjur dikenal masyarakat sebagai agent of change, agent of modernization, atau agen-agen yang lain. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan gelar yang disandangnya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dengan mencoba menelusuri permasalahan sampai ke akar-akarnya.
Dengan adanya sikap kritis dalam diri mahasiswa diharapkan akan timbul sikap korektif terhadap kondisi yang sedang berjalan. Pemikiran prospektif ke arah masa depan harus hinggap dalam pola pikir setiap mahasiswa. Sebaliknya, pemikiran konservatif pro-status quo harus dihindari. Mahasiswa harus menyadari, ada banyak hal di negara ini yang harus diluruskan dan diperbaiki. Kepedulian terhadap negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa depan harus diinterpretasikan oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif. Tidak bisa dimungkiri, mahasiswa sebagai social control terkadang juga kurang mengontrol dirinya sendiri. Sehingga mahasiswa harus menghindari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya, termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa.
Karena itu, kepedulian dan nasionalisme terhadap bangsa dapat pula ditunjukkan dengan keseriusan menimba ilmu di bangku kuliah. Mahasiswa dapat mengasah keahlian dan spesialisasi pada bidang ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi, agar dapat meluruskan berbagai ketimpangan sosial ketika terjun di masyarakat kelak. Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa. Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan begitu, mahasiswa tetap menebarkan bau harum keadilan sosial dan solidaritas kerakyatan.
Peran Lembaga Kemahasiswaan cukup signifikan, baik untuk lingkup nasional, regional maupun internal kampus itu sendiri. Ke depan, peran strategis ini seharusnya juga dimainkan oleh lembaga-lembaga formal kampus lainnya seperti pers mahasiswa, atau kelompok studi profesi. Secara garis besar, menurut Sarlito Wirawan, ada sedikitnya tiga tipologi atau karakteristik mahasiswa yaitu tipe pemimpin, aktivis, dan mahasiswa biasa.
Pertama, tipologi mahasiswa pemimpin, adalah individu mahasiswa yang mengaku pernah memprakarsai, mengorganisasikan, dan mempergerakan aksi protes mahasiswa di perguruan tingginya. Mereka itu umumnya memersepsikan mahasiswa sebagai kontrol sosial, moral force dan dirinya leader tomorrow. Mereka cenderung untuk tidak lekas lulus, sebab perlu mencari pengalaman yang cukup melalui kegiatan dan organisasi kemahasiswaan.
Kedua, tipologi aktivis ialah mahasiswa yang mengaku pernah aktif turut dalam gerakan atau aksi protes mahasiswa di kampusnya beberapa kali (lebih dari satu kali). Mereka merasa menyenangi kegiatan tersebut, untuk mencari pengalaman dan solider dengan teman-temannya. Mahasiswa dari kelompok aktivis ini, juga cenderung tidak ingin cepat lulus, namun tidak ingin terlalu lama. Mereka tidak terlalu memersepsikan diri sebagai leader tomorrow namun pengalaman hidup perlu dicari di luar studi formalnya. Sudah barang tentu jumlah mereka itu lebih banyak daripada kelompok pemimpin.
Ketiga, tipologi mahasiswa biasa adalah kelompok mahasiswa di luar kelompok pemimpin dan aktivis yang jumlahnya paling besar lebih dari 90%. Sesungguhnya cenderung pada hura-hura yaitu kegiatan yang dapat memberikan kepuasan pribadi, tidak memerlukan komitmen jangka panjang dan dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama. Mereka ingin segera lulus, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang tidak segan-segan dengan cara menerabas (nyontek, membuat skripsi “Aspal” dan lain-lain) agar segera lulus.
Apakah hal ini merupakan indikator kurangnya dorongan prestatif di kalangan mahasiswa, masih perlu diteliti. Fakta membuktikan, dinamika kehidupan bangsa dan mahasiswa pada umumnya banyak dimotori oleh tipe pemimpin dan aktivis ini. Meskipun secara kuantitas kecil tetapi mereka mampu menjadi pendorong dan agen utama perubahan dan dinamika kehidupan kampus. Sebagian mereka karena telah terlatih menjadi pemimpin dan aktivis, maka tidak sulit setelah selesai pada akhirnya mereka juga menjadi pemimpin dan aktivis setelah terjun di masyarakat dan pemerintahan.
Dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas, para mahasiswa tetap saja merupakan komunitas elite yang patut diperhitungkan dari dulu dan sampai kini terlebih bagi suatu daerah. Di daerah, masih relatif sedikit anggota masyarakatnya yang dapat menyekolahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Oleh karena itu, keberadaan mahasiswa bagi suatu daerah merupakan modal sosial yang luar biasa, yang dapat dimanfa atkan dan diberdayakan bagi pembangunan suatu daerah. Namun mahasiswa, dapat juga menjadi suatu “ancaman” bagi pemerintahan suatu daerah karena dapat bersikap kritis dan mengambil peran sebagai kekuatan kontrol.
Demikian juga para mahasiswa harus mulai berorientasi ke daerah bukan lagi ke pusat karena Pusat selain sudah overload juga menjadi simbol ketimpangan pembangunan di Indonesia, sehingga diperlukan desentralisasi dan orientasi baru dalam pembangunan daerah. Organisasi kemahasiswaan, Dinamika kehidupan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari wadah atau organisasi yang menjadi instrumen bagaimana gagasan atau program berusaha diwujudkan, baik organisasi intra maupun ekstra kampus. Organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi merupakan wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan serta integritas kepribadian mahasiswa untuk mewujudkan tujuan pendidikan tinggi.
Mengingat mahasiswa merupakan bagian dari civitas academica dan sebagai generasi muda dalam tahap pengembangan dewasa muda, maka dalam penataan organisasinya disusun berdasarkan prinsip dari, oleh, dan untuk mahasiswa dan merupakan subsistem dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Pengalaman selama ini menunjukkan, perguruan tinggi yang telah berhasil membentuk organisasi kemahasiswaan sesuai prinsip-prinsip tersebut cenderung akan diterima oleh para mahasiswa dan memperoleh partisipasi secara optimal.
Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi maupun antarkampus dapat berjalan dengan lancar. Perlu dicatat, dewasa ini kecenderungan organisasi kemahasiswaan yang bernuansa keilmuan dan profesi yang kegiatannya antarkampus. Bahkan kadang-kadang berdimensi internasional cukup meningkat. Hal ini, jelas memerlukan uluran tangan pimpinan perguruan tinggi, baik dalam aspek bimbingan keilmuan maupun dukungan biaya yang tidak ringan. Keterlibatan ikatan profesi senior mereka dan dunia usaha, diharapkan dapat menunjang kegiatan ini.

AKTUALISASI DIRI DAN PENGEMBANGAN JARINGAN
Pada dasarnya manusia dibekali segenap potensi. Potensi merupakan kekuatan tersembunyi yang tidak bisa dimuncul sendiri, melainkan harus dimunculkan. Meski awalnya tersembunyi, tidak sedikit orang yang berhasil menampakkan potensi tersebut hingga mengantarnya ke puncak kesuksesan. Namun tak sedikit pula orang yang mengubur potensi tersebut hingga akhirnya memiliki kualitas hidup yang makin hari makin buruk. Orang-orang ini telah gagal dalam hidup. Tak heran bila sangat ditekankan, baik di buku motivasi atau di pelatihan pengembangan diri, agar manusia terus mengembangkan potensi diri dan menggali kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.
Berdasarkan definisi dari Wikipedia, aktualisasi diri merupakan kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Istilah ini digunakan dalam berbagai teori psikologi, seperti oleh Kurt Goldstein, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Goldstein melihat bahwa kebutuhan ini menjadi motivasi utama manusia, sementara kebutuhan lainnya hanyalah manifestasi dari kebutuhan tersebut. Adapun teori Maslow yang membuat istilah aktualisasi dikenal luas, yaitu tentang hierarki kebutuhan, yang menganggap aktualisasi diri merupakan tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Carl Rogers, seorang ahli psikologi aliran humanisme, yang mengatakan bahwa motivasi orang sehat adalah aktualisasi diri. Menurutnya, aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Menurut Andrie Wongso, aktualisasi diri merupakan suatu tahapan dalam mendahsyatkan potensi diri. Tahap aktualisasi diri merupakan proses realisasi potensi diri setelah mampu melakukan tindakan-tindakan cepat, berani ambil risiko, dan mampu mengambil pelajaran atas keberhasilan dan kegagalan kita. Dalam proses perwujudan ini, kita dituntut untuk melakukan sesuatu secara profesional, efektif, dan efisien.
Andreas Harefa mengungkap hal penting pula menyangkut tanggung jawab manusia, dalam buku berjudul Menjadi Manusia Pembelajar. Menurutnya, pada dasarnya orang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi, dan bakat-bakat terbaiknya. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang “bukan dirinya”. Manusia inilah yang disebut Andreas sebagai manusia pembelajar.
Satu hal yang tak bisa dilepaskan dalam pengaktualisasian diri seorang manusia adalah pembentukan jaringan. Untuk membantu pengaktualisasian diri dibutuhkan jaringan luas, seperti yang dikatakan oleh Andrie Wongso, bahwa tahap aktualisasi diri menuntut kemampuan kita untuk menjalin koneksi atau relasi yang bernilai lebih. Ada kalanya potensi, kemampuan, keterampilan, dan nilai lebih kita, macet gara-gara tidak menemukan saluran aktualisasi yang sepantasnya. Relasi dan koneksi kadang bisa berfungsi seperti jalan dan jembatan menuju ke sasaran yang kita inginkan. Di sinilah arti penting koneksi atau relasi dengan orang lain, terutama sekali relasi-relasi yang berkualitas. Relasi atau koneksi yang berkualitas merupakan daya ungkit yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak keberhasilan kita.
Nah, adapun aktualisasi dan pengembangan jaringan ini bisa dilakukan secara sinergis dalam wadah atau organisasi. Bagi mahasiswa, organisasi yang umumnya diikuti adalah organisasi kemahasiswaan yang bertempat di kampus. Bila merujuk pada pendapat Andrie Wongso, maka sangatlah tepat bila dua hal di atas dikembangkan sejak dini, terutama saat mahasiswa agar kelak nanti bisa dengan mudah mengarungi kehidupan pasca mahasiswa, terutama di dunia pekerjaan. Kesempatan mahasiswa hanyalah sekali dalam seumur hidup. Oleh karenanya, sangat disayangkan bila masa-masa mahasiswa dibiarkan begitu saja tanpa upaya dahsyat untuk mendahsyatkan potensi diri.

MANFAAT BERORGANISASI
Lalu, apa sih manfaat berorganisasi? Pertanyaan ini diajukan karena dilatari oleh keinginan banyak mahasiswa yang berkeinginan bergabung di organisasi tertentu. Saya dapat jelaskan di sini, secara panjang lebar tentang manfaat berorganisasi, sekaligus merangsang adik-adik mahasiswa agar ikut bergabung dengan organisasi yang ada. Bahwa berorganisasi merupakan kegiatan positif yang mestinya tiap mahasiswa harus aktif di dalamnya. Kehidupan kampus bukan hanya diisi dengan kuliah di kelas, tapi juga belajar lewat organisasi. Nah, salah satu manfaat organisasi adalah menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan dirinya. Selain itu, pembentukan jaringan tentu tak luput dari aktivitas keorganisasian, karena tiap organisasi punya jaringan dan pasti orang-orang di dalamnya yang menggerakkan jaringan tersebut.
Pengalaman berorganisasi di saat mahasiswa telah membentuk karakter positif dari sejumlah tokoh-tokoh besar negeri ini. Bahkan di sekitar kita pun muncul banyak tokoh-tokoh sukses yang dulunya merupakan aktivis di organisasi tertentu. Pimpinan Universitas Muhammadiyah Tangerang saat ini adalah contoh nyata tentang orang-orang yang matang dan telah makan asam garam beroragnisasi sejak mereka muda. Tokoh-tokoh lain di Indonesia seperti Jusuf Kalla, Adyaksa Dault, dan banyak tokoh di DPR merupakan aktivitas – aktivis organisasi mahasiswa saat mereka kuliah. Mereka sangat menyadari bahwa masa mahasiswa bukan hanya dimanfaatkan untuk mencari ilmu di kelas, tapi juga ilmu itu terbentang luas di luar kelas sehingga perlu pula dicari. Oleh karenanya, orang-orang ini sadar bahwa dengan berorganisasi maka ilmu itu akan didapatkan. Banyak sekali ilmu yang diperoleh di organisasi di mana tidak diperoleh di dalam kelas, terutama dalam bersosialisasi dengan masyarakat.
Tentu patut disyukuri bisa mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Tangerang ini. Keadaan kampus yang nyaman, fasilitas belajar yang lengkap, serta iklim intelektual yang dinamis, tentu menjadi salah satu faktor munculnya banyak orang-orang sukses yang terlahir dari UMT ini. Hal lain, yang menurut penulis tidak kalah pentingnya, adalah terfasilitasinya kegiatan kemahasiswaan, khususnya terkait organisasi intra dan ekstra kampus. Di hampir setiap fakultas, terdapat sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti BEM, IMM, dan UKM-UKM yang kelak akan kita bentuk sebagai wadah berkiprah mahasiswa untuk berorganisasi.
Menurut hemat penulis, pembentukan banyak organisasi intra kampus di UMT ke depan dengan tujuan memberikan medium beraktivitas bagi mahasiswa yang ingin mengembankan diri lewat organisasi. Selain itu, dukungan dari kampus tentu sangat berperan dalam tumbuh suburnya organisasi kemahasiswaan di UMT ini. Dukungan ini bisa dalam bentuk materi maupun non materi. Dukungan materi dapat diamati dengan pemberian anggaran untuk mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa, asalkan bermanfaat dan bisa dipertanggungjawabkan. Soal dana, UMT akan memberikan dana sesuai yang dibutuhkan. Namun, sekali lagi ditekankan bahwa kegiatan yang dilaksanakan harus bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tentu penggiat organisasi, yang tidak lagi pusing memikirkan dana, akan berkonsentrasi untuk mengembankan organisasinya dan menjalankan setiap program yang telah direncanakan. Sedangkan dukungan non materi juga terlihat pada kebijakan-kebijakan fakultas yang mengakomodasi kepentingan organisasi kemahasiswaan. Nah, menurut hemat penulis, dukungan ini sangat berguna buat tumbuh kembangnya organisasi kemahasiswaan Dengan demikian, terlaksananya banyak program yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh penggiat yang ada di organisasi tersebut akan mendorong terjadinya proses belajar. Para penggiat organisasi akan berupaya keras untuk menjalankan setiap kegiatan, sehingga dalam proses tersebut, mereka berupaya mengaktualisasikan dirinya.
Sementara itu, pengembangan jaringan juga sudah termasuk dalam proses tersebut. Jaringan ini akan terbentuk dengan sendirinya, sebab suatu organisasi pasti berhubungan dengan pihak-pihak eksternal yang menjadi mitra kegiatannya. Misalnya dalam melaksanakan kegiatan seminar, tentu pihak-pihak eksternal akan banyak dilibatkan sehingga dalam hubungan tersebut terbentuk jaringan tidak hanya menyangkut institusinya, melainkan pribadi-pribadi di dalamnya. Misalnya lagi dalam organisasi pers mahasiswa, di mana terbentuknya banyak jaringan terutama dalam bidang periklanan, serta sesama penggiat pers mahasiswa yang kerap kali melaksanakan kegiatan bersama. Pun, antar sesama penggiat dalam suatu organisasi bisa saling menjalin jaringan, sehingga suatu saat nanti, dampak hubungan ini bisa menjadi relasi bisnis atau relasi-relasi lainnya setelah tidak berstatus mahasiswa lagi.
Oleh karenanya, pengembangan jaringan di masa kuliah merupakan kebutuhan penting agar kita dapat menatap masa depan cemerlang. Banyak kenalan, banyak rezeki. Kata ini bisa saja benar, karena jaringan yang luas akan membuka peluang untuk memperoleh kesempatan bisnis ataupun yang lainnya. Di sisi lain, aktualisasi diri merupakan ujung tombak untuk mencapai masa depan yang cemerlang. Tentu dua hal ini merupakan harga mati atau kewajiban untuk dikembangkan oleh mahasiswa.

PROSPEK PENGEMBANGAN JARINGAN KEMAHASISWAAN MELALUI BEM
Gerakan mahasiswa harus diakui telah mengambil peran yang penting dalam sejarah perjalan bangsa ini, mulai dari tahun-tahun awal kebangkitan, Sumpah Pemuda, masa-masa Revolusi, penculikan Pak Karno dan masa pergolakan tahun 1965. Kekuatan semangatnya bukan hanya mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar dan berskala nasional. Tetapi, juga berhasil menggulingkan sebuah rezim militeristik dan diktator otoritarian. Barangkali berkat image ini maka seorang Pramoedya Ananta Toer begitu menyerahkan kepercayaan penuh kepada gerakan kaum muda.
Gerakan mahasiswa ini pada awalnya terlahir dari kelompok-kelompok internal kampus memang.yang terbentuk dari diskusi-diskusi dan konsolidasi serta buah pengorganisasian terhadap basis rakyat. Pada awalnya mereka juga menyadari perlunya membangun organisasi yang bersentuhan dengan permasalahan rakyat, seperti buruh, petani dan kaum urban. Rakyat juga harus diinjeksi kesadarannya untuk kemudian bergerak mencapai tujuan bersama. Ini tercermin dari tulisan Soe Hok Gie yang menjadikan keinginan untuk mendekati rakyat sebagai landasan awal pembentukan Mapala UI.
Namun sejarah seperti terulang, ketika era berganti, dan orde berulang kali lewati dan agenda reformasi diharuskan tetap berjalan. Kekuatan mahasiswa seperti kemudian surut dalam kekuatan tak nampak, tergusur oleh tangguhnya kekuatan penguasa, keok oleh suasana politik yang memang tidak nyaman. Kondisi seperti ini, ternyata memberi kerumitan yang sangat sulit bagi aktivis mahasiswa untuk kembali memilih berperilaku wajar, obyektif dan jujur. Tiba-tiba mereka telah menjadi aktivis yang terlalu sibuk mengisi kebutuhan yang muncul mendadak dalam era reformasi.
Yaitu kebutuhan akan informasi yang bersifat instant dan kontroversial. Serta tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan pengakuan sosial. Jadilah kemudian mereka layaknya ‘tokoh’ sejarah yang lebih tertarik pada perubahan dalam kelembagaan sosial dan wawasan nilai. Pengkhianatan kembali terjadi berupa memilih untuk kebagian dan masuk ke dalam sistem. Suatu sistem anti perubahan.
Dari sinilah kita dapat menyaksikan bahwa pola berfikir aktivis mahasiswa kadang minim etika, statis atau monoton dan tidak bebas nilai. Mereka kemudian lahir sebagai ‘nabi-nabi baru’ yang hanya menyiarkan wahyu semata dan tidak secara emansipatoris menjalankan fungsi sosialnya. Walau ada sebagian kecil aktivis mahasiswa yang ingin berperan dalam rekayasa sosial dan menawarkan reorientasi terhadap masalah-masalah budaya.
Apakah aktivis mahasiswa kalah. Capek dengan beragam platform organ gerakan mahasiswa yang belum bisa saling dipertemukan. Sehingga energi dan strategi bersama untuk merespon perkembangan orde reformasi belum bisa dirumuskan. Di sisi lain, tokoh yang dulu mereka andaikan sebagai sang penyelamat, ternyata sama saja, reformis gadungan yang kerap memancing di air keruh untuk kepentingan politik golongannya. Seperti ditulis di atas, pilihan untuk turut ambil bagian adalah pilihan beresiko sangat tinggi dan pada dasarnya juga melemahkan dasar-dasar demokrasi. Sebab, disinilah ideologi akan mulai diuji dengan kenyataan membangun kekuasaan kelompok. Seringkali, aktivis yang memaksakan untuk menjalankan keduanya, dengan mengambil posisi dalam kekuasaan, terbuai lupa dan tidak kembali.
Bukankah sebagian besar aktor politik yang ada saat ini, dulunya seorang aktivis dari organ gerakan mahasiswa? Rumusan yang menyatakan bahwa power tends to corrupt (kekuasaan cenderung untuk menjadi korup), kini memang benar-benar terbukti. Pilihan minimal yang seharusnya di ambil seorang aktivis adalah dengan kembali ke kampus. Seperti juga yang dilakukan oleh Soe Hok Gie. Membangun kembali kekuatan berbasis rakyat banyak, seraya sesekali mengeluarkan suara, sabagai tanda masih ada. Namun inilah kondisi dilematiknya, kampus terlanjut menjadi bagian dari hidangan penuh muatan politik, sistem yang wajib dianut adalah sistem yang secara khas mengebiri daya kritis mahasiswa, lihatlah, sadar atau tidak kampus telah kehilangan jemaah, setiap akan diadakan konsolidasi–demo misalnya.
Begitu sulit mengumpulkan niat untuk terjun kembali pada kepedulian. Rasa inilah yang telah terkebiri dengan sempurna oleh sistem. Di samping itu, dampak dari sikap kampus juga tidak kalah menawan. Keengganan elit kampus “Ciri khas dari cendikiawan kita” untuk terjun langsung ke masyarakat, telah menjadi kampus sebagai menara gading bagi sikap bersahabat yang dibutuhkan dari rakyat
Kondisi umum perpolitikan memang berubah, meski tidak total, kita tidak lagi harus berhadapan dengan rezim otoriter. Rakyat telah menjadi bagian integral dalam proses politik, dan juga komunitas dengan nilai kebebasan yang sangat terbuka.
Namun, sebuah keniscayaan tidak bisa diubah bahwa rakyat juga merupakan entitas yang problematik.Pembodohan yang terjadi selama ini begitu berakibat dahsyat, dan itu tidak bisa terobati hanya dalam waktu sekejap. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan dan ladang subur konflik terstruktur yang sering terjadi.
Negara memang tetap menjadi sumber masalah utama, tetapi bukan karena ia kuat dan dominant, seperti dulu jaman Soeharto. namun justru karena lemah dan tidak berdaya untuk menjalankan perannya sebagai pemimpin ummat, bukan penguasa, perannya sebagai alat penegak hukum dan tata tertib hancur berkeping-keping.
Pada kondisi inilah sebenarnya, peran mahasiswa dan kaum muda dapat bermain cantik, menarik simpati masyarakat, yang sekarang tidak berpemilik.Jalan satu-satunya adalah kembali ke rumah sebenarnya, “hati rakyat” seperti kata Lacaba “dan bukan terus terpuruk dalam polemik. Sudah saatnya mahasiswa menghilangkan bendera kerjuruan yang lebih sempit, menjadi sebuah pola yang solid dan menyatu, tidak terpecah oleh bedanya warna bendera. Sebuah tuntutan yang memang harus banyak menelan korban. Hanya dengan kesolidan dan kesatuan sebenarnya daya dorong kepada pemerintah bisa lebih kuat”.
Aktivis yang benar adalah aktivis yang tidak bersinggungan dengan kekuasaan, hilangkan sampai nol persen sekalipun. Tak peduli apakah pada akhirnya ia akan menjadi sendiri dan terkucil bahkan tak dikenal sama sekali. Niat inilah yang terkadang terlanjut terucap tapi luntur ditengah jalan, tersiram hujan keinginan yang sempit bahkan tidak berperi. Pergerakan sejarah perjuangan Indonesia kembali akan dikenanga dunia sebagai pergerakan jalan di tempat, jika pada kenyataannya keingian melawan kepuasan menang melawan niat tulus berjuang. Kasihan bukan???
Sejak jaman kemerdekaan hingga jaman pergolakan 65, kegiatan yang tidak sejalan dengan misi perjuangan dan cenderung memihak pada kepuasan pribadi dianggap sebagai pengkhianatan. Bung Tomo harus melakukan permintaan ijin kepada pemimpin tinggi tentara saat itu ketika ia hendak menikah dan berjanji untuk tidak melakukan hubungan suami istri sebelum kemerdekaan dicapai. Permohonan ini dimuat di koran pada saat itu. Seorang Soe Hok Gie bahkan merelakan untuk tidak berpacaran pada saat musim demonstrasi 65, sebab hal demikian dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan pribadi yang bisa ditunda oleh kebutuhan akan kebebasan dan kemakmuran rakyat yang lebih utama.

PENUTUP
Banyak sekali pelajaran dan pendidikan yang didapatkan dalam berorganisasi. Di dalam organisasi kita bisa belajar disiplin,menghargai waktu,menghargai orang lain,kita dapat mempelajari teknik berkomunikasi dan bersosialisasi dengan berbagai macam tipe manusia dan budaya yang kelak akan berguna bagi diri kita,kita juga dapat mengaplikasikan segala ilmu yang telah kita dapatkan,implementasi ilmu dalam bentuk konkrit bukan sekedar teori dan masih banyak lagi manfaat organisasi.
Positifnya bisa saling bertukar pikiran antar sesama mahasiswa, melatih kepercayaan diri, meningkatkan solidaritas, memupuk rasa tanggung jawab dan dengan berorganisasi, maka para mahasiswa akan mampu dan lebih siap untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya, kehidupan setelah lulus dan berhadapan dengan masyarakat. Ditilik dari namanya, mahasiswa bisa diartikan perlajar yang “super”. Term “super” berarti bahwa mahasiswa merupakan pelajar yang berpredikat luar biasa karena telah menempuh jenjang terakhirnya dalam level pendidikan secara formal. Pemahaman ini jelas berbeda dengan pemaknaan siswa saja yang biasa diartikan pelajar.
Penyisipan arti “super” atau “luar biasa” dalam memaknai mahasiswa tidaklah terjadi secara kebetulan. Pernyataan ini bisa diperkuat dengan idealisme mahasiswa dengan adagiumnya yang terkenal, “agent of change” yang berarti pelaku perubahan. Logika dari gelar ini berorientasi pada penempatan mahasiswa sebagai sentral yang bisa memainkan peran aktifnya untuk mengawali dan mengawal sebuah perubahan. Untuk itu, mahasiswa tertuntut untuk menjadi orang yang betul-betul super dalam lingkungannya sehingga transformasi ilmu dan pengalamannya bisa dirasakan oleh masyarakatnya. Untuk mewujudkan idealisme di muka, perlu sebuah langkah kongret dan efektif yang membawa mahasiswa pada arah itu. Langkah-langkah itu bisa ditemukan dalam pengalaman mengelola sebuah komunitas, mobilisasi massa, menghimpun ide, menganalisis persoalan, dan memecahkan masalah. Semua itu bisa dicapai oleh mahasiswa dalam sebuah perhimpunan yang disebut dengan organisasi.
Mahasiswa tanpa organisasi tak ubahnya seorang pelajar tanpa pengalaman lapangan. Mereka tak lain kecuali siswa lanjutan yang hanya belajar materi akademik. Mereka hanya mementingkan bagaimana menjadi orang pintar tanpa merenungkan bagaimana mentransformasikannya dalam kelangsungan hidup masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa teori tidak selalu sama dengan realitas. Bagaimanapun piawainya seorang mahasiswa berteori, genius sekalipun dalam mengerjakan soal, belum tentu dia bisa memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Pada titik inilah, organisasi tidak bisa dihindari oleh mereka yang mengaku betul-betul mahasiswa. Kalau hanya ingin mencari ilmu pengetahuan, seseorang tidak perlu repot-repot menjadi mahasiswa. Dia bisa belajar autodidak dengan membaca koran dan buku ilmiah serta internet atau menyimak diskusi yang dipublikasikan oleh media televisi, misalnya. Namun, dia tidak boleh terlalu banyak bermimpi untuk bisa menjadi leader (pemimpin) dalam sebuah komunitas karena kepemimpinan adalah bagian penting dalam pengalaman organisasi.

*Makalah disampaikan dalam Acara
Latihan Kepemimpinan Dasar Mahasiswa (LKDM)
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Tangerang
Pada Jumat, 13 Rabiulakhir 1432 H/18 Maret 2011 di Cisarua Bogor